Sabtu, 20 April 2013

Kendala yang Dihadapi Masyarakat


Kondisi Jalan di wilayah Peukuhan Gatak, cuaca normal memang tak selancar, kondisi lingkunagan saat hujan datang.
Masalah utama yang dihadapi Pedukuhan Gatak GK II yang terletak di pinggiran Kota yang sebagian besar tempat resapan air sudah semakin sempit ketika musim hujan datang adalah banjir yang selalu menggenangi badan jalan kampung, seperti yang terlihat pada gambar, di karenakan gorong-gorong tempat menampung air hujan ataupun sumur reasapan air yang di buat tidak sanggup lagi menampung debit air yang kapasitasnya sangat banyak, sehingga pemandangan seperti ini pasti terjadi ketika musim hujan.

1 komentar:

aiks mengatakan...

Pemandangan yang biasa kita lihat di daerah padat pemukiman. Terlebih di daerah yang belum mempunyai konsep penataan berwawasan lingkungan. Pola pandang masyarakat yang masih bertumpu kepada saluran limpahan air hujan dianggap satu-satunya jalan untuk menangani banjir sesaat tersebut. Sedangan di dalam ajaran Tuhan sudah dijelaskan bahwa di dalam air hujan itulah Allah SWT memberikan berkahnya kepada seluruh makhluk-Nya. Oleh karena itu sangatlah sayang apabila berkah yang sudah diberikan disia-siakan.
Jika kita menengok ketika belum banyak bangunan berdiri dan memadati lingkungan, banjir sesaat jarang terjadi atau bahkan tidak pernah terjadi. Karunia yang diberikan Tuhan dapat terserap masuk ke tanah untuk kemudian memberikan kehidupan bagi makhluk-Nya.Secara alami lahan terbuka menjadi pori-pori bumi untuk meresapkan air yang tercurah dari langit. Memenuhi sumur-sumur sebagai sumber air bersih untuk keperluan penghidupan manusia.
Saat ini, pori-pori bumi tersebut secara berlahan tertutup oleh rumah dan lahan-lahan yang tertutup tanpa resapan. Dan karunia tersebut hanya berlalu begitu saja, mengalir ke sungai dan kembali ke laut dengan sedikit manfaat. Lain halnya jika kita dapat memanennya, kandungan air tanah lebih berkualitas dan berlimpah, tumbuhanpun dapat meminum dengan puasnya.
Menjadi pertanyaan bagi kita, bagaimana cara kita meraup berkah tersebut? Bagaimana cara kita memanen air hujan yang sangat besar manfaatnya bagi semua ini?
Tidak lain adalah bagaimana kita kembali ke pola pikir berwawasan lingkungan. Bagaimana menumbuhkan pemikiran bahwa pori-pori bumi yang kita tutup dengan "semen" tersebut tergantikan dengan sarana lain. Maka kita harus banyak belajar dari berbagai sumber, dari sejarah, wilayah lain dan orang lain. Meninggalkan ego dan emosi pribadi untuk kepentingan ummat. Memberdayakan yang mampu dan membantu yang kurang mampu. Tidak hanya glamor dengan bangunan fisik tetapi melupakan sisi yang lebih esensi.
Bagaimana membangun pemikiran bahwa setiap orang mempunya kewajiban untuk memanen air yang sudah dirahmatkan Allah SWT melalui hujan. Bagaimana setiap orang dapat berusaha untuk menampung air hujan di jengkal tanah dimana kita diijinkan untuk tinggal dan hidup.
Menampung air hujan bukan berarti harus menyediakan bejana yang besar, akan tetapi bagaimana kita bisa meresapkan air hujan ke dalam tanah itulah yang disebut memanen. Walaupun kita belum dapat memperoleh ukuran secara pasti seberapa besar kemampuan resapan air tanah di wilayah kita. Namun secara umum akan lebih dari 50% dipastikan air hujan dapat dipanen. Apabila setiap rumah mempunyai sumur resapan dengan perbandingan luasan tanah yang dimilikinya.
Bayangkan jika jumlah rumah di wilayah kita ada 120 buah, dan dari situlah kita menghitung banyaknya sumur resapan. Jika 1 sumur resapan mempunyai daya tampung 3m3, maka akan ada sebanyak 360m3 air yang tertamping. Dan jika koefisien resapan air di wilayah kita0,766 maka dalam kita asumsikan bahwa setiap 1 jam kemampuan daya tampung sumur resapan yang kita buat mampu meresapkan air sebanyak hampir 1000m3 air. Jumlah yang cukup fantastik. Dan kita dapat memperkirakan air yang menggenang di jalan tersebut mungkin kurang dari 1000m3. Artinya luapan air hujan tidak seberat saat ini.
Oleh karena itu marilah kita mulai membuka pola pikir baru bahwa rumah-rumah yang ada mewajibkan diri untuk mengadakan sumur resapan. Demikian juga bangunan lama yang sudah ada juga mengadakannya. Insya Allah berkah yang berlimpah tersebut tidak akan tersia-siakan. Walaa tubaadzir tabdziraa.

Coba baca artikel di bawah ini:
http://bebasbanjir2025.wordpress.com/teknologi-pengendalian-banjir/sumur-resapan/
http://yantoarchitect.blogspot.com/2013/01/sumur-resapan.html

Poskan Komentar